masjid-al-azhar-magnet-peziarah-dari-seluruh-negara

Masjid Al Azhar Magnet Peziarah dari Seluruh Negara

Diposting pada

Cairo – Richard : “Dipenuhi dengan keadaan religius dan kami menikmati aman dan tenang di dalamnya.”

– Sinan asal Sudan: “Pesannya mempunyai sifat universal dan saya telah menyimak sejarah dan seluruh anak bangsa yang terdapat di dalamnya.”

– Muslim asal Checnya: “Tempat sangat tenang dan paling estetis untuk belajar.”

Kunjungi juga Webste Islami

– Emilia asal Indonesia: “Kami merasa bahagia dan tenang belajar di tengah semua pelajar asal Mesir di Al Azhar.”

Hussein Auadallah menulis:

Masjid AL Azhar ialah peninggalan dinasti Fathimiyah yang sangat momumental dan bersejarah. Masjid ini tidak saja masjid yang menjadi destinasi orang-orang datang untuk membayar shalat saja, tetapi menjadi monumen sejarah tertua di Mesir yang menjadi jejak pengaruh dinasti Fathimiyah. Nilai sejarahnya ini sudah menjadikan Masjid Al Azhar sebagai lokasi yang spesial di hati orang Mesir dan bahkan destinasi spesial untuk turis asing kapanpun mereka datang ke Mesir.

Setiap tahun pada tanggal tujuh bulan Ramadhan menjadi hari diperingatinya pendahuluan masjid ini. Dan, sejumlah hari yang lalu, peringatan ke-1079 tahun pendiriannya dirayakan. Dewan Syaikh Al Azhar mengadakan perayaan besar yang unik minat tidak sedikit pengunjung dari semua dunia serta meluangkan jamuan berbuka puasa bareng untuk orang-orang yang berpuasa.

Redaksi Shautul Azhar bertemu dengan tidak sedikit pengunjung perayaan ini, mereka terdapat yang berasal dari Inggris, Korea, Afghanistan, India, Sudan, Uganda. Salah seorang pengunjung mempunyai nama Richard yang datang ditemani istrinya, berkata: “Kami mendatangi Mesir masing-masing tahun dan guna kesatu kalinya kami beruntung dapat mengunjungi Masjid Al Azhar dan menonton ini. Perayaan yang mempesona, kami menyimak integrasi kebiasaan yang bertolak belakang tanpa batas, kami tidak dapat memisahkan orang Mesir dari yang lain, dan masjid Al-Azhar ialah mahakarya arsitektur yang spektakuler dan tidak kalah nilainya dari piramida-piramida. Di masjid ini kami menikmati kebahagiaan dan kenyamanan, sarat dengan nuansa spiritualitas di tengah keramaian dan kami merasa didalamnya aman dan tenang.”

Kemudian, redaksi pun bertemu dengan pengunjung mempunyai nama Murtadla Thayyeb, lelaki berusia 50 tahun asal Sudan. Ia mengungkapkan, “Kami mendatangi Mesir masing-masing tahun sekitar 10 hari atau lebih, dan ini ialah kedua kalinya saya mendatangi masjid al Azhar selama trafik saya tahun ini. Masjid ini ialah rujukan agama Islam terbesar untuk semua negara di dunia.”

Dia melanjutkan: “Saya telah membayar haji ke Baitullah dan umrah sejumlah dua kali. Dan Masjid Al Azhar secara spiritual mengingatkan saya pulang ke Mekah dan Madinah dengan semua ulamanya, ketenangan, keindahan, dan nilai arsitekturnya. Semoga Allah mengayomi Mesir dan rakyatnya serta Al Azhar dan tanah air kami.”

Muslim Bilal, mahasiswa di Universitas Al Azhar asal Chechnya mengatakan: “Saya mendatangi Masjid Al Azhar masing-masing hari. Saya merasa nyaman dan tenang di dalamnya. Ini ialah tempat ibadah, tempat sangat tenang dan paling estetis untuk belajar. Universitas Al Azhar ialah lembaga ilmiah Islam terbesar di dunia yang menjadi rujukan ilmu serta destinasi belajar semua pelajar dari sekian banyak  negara guna mempelajari ilmu-ilmu syariah, bahasa Arab, kedokteran dan kemanusiaan. Di koridor-koridor masjid ini pernah belajar semua raja, sultan, presiden, semua syaikh dan mufti Al Azhar, semua menteri, utusan besar dan semua ilmuwan dari bagian beda dunia. Kami bangga belajar di sini.”

Utsman Nortsani, presiden parlemen mahasiswa asing di Universitas Al Azhar, mengatakan: “Saya paling tertarik menghadiri acara-acara urgen seperti ini sebagai kontribusi untuk universitas kami ini yang sudah berjasa mendidik dan membina generasi sekitar lebih dari seribu tahun. Kami paling salut pada semua ulama yang senantiasa teguh melayani seluruh negara Islam dengan segenap pengajaran ilmiah, kebudayaan dan sastra. Serta kesungguhan mereka dalam menebarkan manhaj Al Azhar yang moderat sekitar berabad-abad lamanya untuk menyerahkan penerangan yang benar tentang Islam. Bahkan andai kami selaku pelajar asing telah kembali ke negara anda masing-masing, kami bakal tetap mempunyai hasrat untuk mendatangi lagi Al Azhar laiknya sebagai trafik yang wajib guna terus mengokohkan spirit ke-Azharannya.”

Mahasiswi asal Indonesia mempunyai nama Emilia binti Amrizal mengemukakan, “Ketika saya belajar di negara saya, saya mendengar tidak sedikit tentang Al Azhar dan semua ulamanya. Al Azhar untuk kami ialah kiblat ilmu dan dasar untuk berbagai disiplin ilmu, terutama ilmu agama. Kami merasa bahagia dan tenang sedang di tengah-tengah mahasiswi asal Mesir saat kami menginjak masjid Al Azhar. Banyak koridor di masjid ini yang dipakai secara efektif guna kegiatan-kegiatan kajian dan semua mereka paling terbuka atas informasi kajian di lokasi ini.”

Mohammed Sinan, seorang pemuda Sudan yang kesatu kali berangjangsana ke masjid Al Azhar mengungkapkan: “Kami menonton di dalam masjid bersejarah ini terdapat pengunjung dari sekian banyak  negara baik Asia, Afrika dan Eropa. Ini menegaskan bahwa pengaruh Al Azhar telah mendunia sebagaimana kisah orangtua saya yang pernah belajar di sini, mereka menceritakan tidak sedikit hal mengenai masjid ini tergolong kegiatan-kegiatan di koridornya secara jelas. Dan, saat saya menginjak masjid ini, maka semakin jelaslah kisah itu sebab saya dapat merasakan sendiri alangkah syahdunya keadaan di masjid ini dan saya bakal menziarahinya masing-masing kali saya datang ke Mesir.”

Sementara seorang insinyur mempunyai nama Ahmed Hussein, berusia empat puluh tahun, membawa putrinya, Farah, guna menghadiri acara peringatan masjid Al Azhar. Ia mengatakan: “Hampir masing-masing hari saya membayar shalat Ashar di masjid ini. Rumah saya sebetulnya dekat dari sini, bahkan lebih dekat ke masjid Husain. Tapi, saya merasa lebih utama membayar shalat di masjid ini. Saat sedang di masjid ini, saya menikmati kenyamanan yang lebih besar. Saya paling berterimakasih untuk para pihak yang berpartisipasi dalam restorasi terakhir masjid, sebab masjid ini nampak lebih estetis dan megah.”

Sarimba Farouq, mahasiswa asal Uganda, mengatakan, “Selama lebih dari satu abad, tidak sedikit sekali pelajar dari negeri kami yang belajar di Al Azhar. Banyak sekali lulusannya yang mempunyai peran urgen dan memotivasi generasi muda guna belajar. Al Azhar memiliki status bergengsi di negeri kami. Kami sangat hendak mengunjungi Al Azhar dan menyimak sejarahnya. Al Azhar dominan besar untuk pemikiran semua ulama kami. Saya berangan-angan menjadi ulama alumni Al Azhar yang dapat membawa perbaikan di negeri saya melewati dakwah Islam moderat yang sesungguhnya.”