Teknologi Mesin Waktu, Mungkin Kah ?

Diposting pada

Teknorus Lao Tzu, seorang ahli filsafat dan penyair Cina mengata kan, “Waktu adalah hal yang diciptakan. Untuk menga takan “Saya tidak punya waktu” adalah seperti menga takan “Saya tidak mau””. Dengan teknologi yang ada saat ini kita benar-benar bisa menciptakan, bahkan- – – membekukan waktu. Sejak kecil, orang tua kita sering kali mengingatkan bahwa “waktu adalah uang” agar kita benar-benar menghargai waktu dan mengisinya dengan melakukan kegiatan yang bermanfaat Hal lain yang tersirat dalam adagium itu adalah waktu bersifat linier, terus maju dan tidak akan pernah bisa kembali. Meskipun kebanyakan penunjuk waktu berbentuk lingkaran, tapi sejatinya setiap detik yang berlalu tidak akan pernah kembali lagi. Foto dan video Akan tetapi, konsep waktu yang linier itu mulai berubah ketika pada 1822 Joseph Nicéphore Niépce membuat foto Heliografi pertama dengan subjek Paus Pius VII. Meskipun karyanya itu gagal dicetak, pada 1825 ia sukses membuat sebuah foto berjudul “View from the Window at Le Gras”.

Kesuksesan itu menunjukkan bahwa ia berhasil menangkap sebuah momen dan membekukannya dalam sebuah gambar. Dalam perkembangan selanjutnya, teknologi fotografi terus disempurnakan dengan berbagai inovasi. Thomas Alva Edison bahkan berhasil mengembangkan kamera kinestokopis (motion pictures) pada 1891 yang kemudian menjadi dasar kamera video yang kita kenal saat ini. Kedua penemuan tersebut telah berhasil mengabadikan banyak momen dalam bentuk foto maupun video. Meskipun tidak bisa benar-benar membuat waktu berhenti, setiap foto dan video menyimpan sejarahnya sendiri yang bisa membawa setiap orang kembali merasakan atau setidaknya membayangkan suasana, keadaan, dan kondisi yang terekam saat suatu peristiwa terjadi. Dengan kata lain, foto dan video bisa disebut sebagai “mesin waktu” generasi pertama. Generasi 2.0 Berkat Internet, membekukan waktu kini menjadi semakin mudah. Pasalnya, setiap aktivitas kita, terutama saat melakukan posting atau upload sesuatu, secara otomatis tersimpan di server.

Beberapa penyedia layanan bahkan memberi kemudahan bagi penggunanya dengan membuat feature yang dinamakan timeline, tempat semua posting tercatat berdasarkan waktu. Twitter dan Facebook mencatat aktivitas penggunanya di timeline berdasarkan tanggal, sementara Path lebih detail lagi dengan mencatat aktivitas penggunanya berdasarkan jam. Saat hendak kembali menelusuri waktu untuk merasakan kembali momen-momen yang telah terjadi, pengguna hanya perlu scrolling di layar perangkatnya. Dengan begitu, Internet melalui berbagai layanannya telah menjadi “mesin waktu 2.0” yang melibatkan penggunanya secara lebih aktif. Siapa pun yang memiliki akses ke dunia maya ini, bisa dengan mudah menjelajah waktu. Maka, kini waktu bisa dengan mudah diciptakan, dibekukan, dan dimanipulasi sedemikian rupa oleh siapa pun. Meski begitu, tak seorang pun bisa benar-benar menggenggam waktu dan masa depan akan tetap menjadi misteri.